Bukan Sekadar Rumus: 7 Financial Formulas yang Masih Bertahan di Tengah Krisis 'Finfluencer' dan Tren Investasi Viral 2026
Uncategorized

Bukan Sekadar Rumus: 7 Financial Formulas yang Masih Bertahan di Tengah Krisis ‘Finfluencer’ dan Tren Investasi Viral 2026

Pernah nggak sih, scrolling TikTok terus nemu video “Cara kaya dalam 30 hari!” atau “Investasi ini dijamin untung!” Trus kamu mikir, “Masa sih semudah itu?” Terus kamu coba, dan hasilnya? Nggak sesuai ekspektasi.

Kamu nggak sendirian. Sebuah studi dari DayTrading.com yang menganalisis video investasi viral di TikTok nemuin fakta mengejutkan: 75% dari konten investasi yang viral itu menyesatkan. Bahkan, dari 2025 ke 2026, jumlah video yang gagal ngasih peringatan risiko naik dari 30% jadi 60% .

Makanya, OJK akhirnya turun tangan. Juni 2026 lalu, mereka ngeluarin POJK No. 6/2026 yang mewajibkan finfluencer punya lisensi dan transparan soal kompensasi kalau mau promosiin produk keuangan . Ini semua karena kasus manipulasi saham oleh influencer BVN yang kena denda Rp5,35 miliar di Februari 2026 .

Nah, di tengah badai finfluencer trap ini, ada kabar baik: fundamental keuangan tetap bertahan. Rumus-rumus klasik yang diajarin di bangku kuliah atau buku teks—yang mungkin dibilang “jadul” sama anak TikTok—sebenernya justru jadi penyelamat.

Inilah 7 financial formulas yang masih relevan di 2026—dan bakal tetep relevan.


7 Financial Formulas yang Tetap Bertahan

1. Return on Investment (ROI)

ROI adalah rumus paling dasar buat ngukur efektivitas modal. Gampangnya: seberapa efisien uang kamu bekerja?

Rumus:

ROI = ((Nilai Investasi Akhir – Nilai Investasi Awal) / Nilai Investasi Awal) × 100%

Misalnya kamu investasi Rp10 juta, terus nilainya jadi Rp12 juta. ROI-nya (2 juta / 10 juta) × 100% = 20% .

Di era hype saham dan kripto, ROI bantuin kamu bandingin kinerja antar aset secara objektif. Nggak cuma lihat “wah naiknya banyak”, tapi tau persentase efisiensinya.

2. Capital Gain (dan Capital Loss)

Ini rumus dasar buat ngitung untung-rugi dari selisih harga jual-beli saham. Di mana 1 lot = 100 lembar saham di Bursa Efek Indonesia .

Rumus:

Capital Gain = (Harga Jual – Harga Beli) × 100 lembar × Jumlah Lot

Contoh: Beli 1 lot BCA di Rp8.000/lembar (total Rp800.000), jual di Rp8.500/lembar (total Rp850.000). Keuntungan kotor = (8.500 – 8.000) × 100 = Rp50.000 .

Tapi jangan lupa biaya transaksi! Fee broker beli sekitar 0,15% dan jual 0,25%. Setelah dipotong, keuntungan bersih BCA tadi cuma sekitar Rp46.675 .

3. Dollar-Cost Averaging (DCA)

Ini strategi yang lagi hits di TikTok—dan beneran works! DCA adalah investasi dengan jumlah tetap secara rutin, nggak peduli harga lagi naik atau turun .

Cara kerja: Misalnya kamu investasi Rp1 juta setiap bulan di reksa dana atau saham. Waktu harga turun, kamu dapet lebih banyak unit. Waktu harga naik, kamu dapet lebih sedikit. Rata-rata, biaya beli kamu jadi lebih stabil .

Daniel Gleich, CEO Madison Trust Company, bilang: “Pendekatan ini biasanya membantu mengurangi pengambilan keputusan emosional dan dampak volatilitas pasar.” Ini terutama berguna buat investor pemula yang sering panik lihat pasar merah .

4. Persamaan Dasar Akuntansi (Basic Accounting Equation)

Ini mungkin yang paling “jadul” di antara semuanya, tapi justru yang paling fundamental .

Rumus:

Aset = Liabilitas + Ekuitas

Ini bukan cuma buat akuntan. Kamu juga bisa pake buat ngecek kesehatan keuangan pribadi: total harta kamu harus sama dengan total utang plus kekayaan bersih .

Kalau kamu mau investasi di saham, paham laporan keuangan perusahaan itu penting. Dan persamaan ini adalah fondasi semua laporan keuangan .

5. Nilai Waktu Uang (Time Value of Money) & PV/FV

Konsep bahwa uang hari ini lebih berharga daripada uang di masa depan. Ada dua rumus dasar: Present Value (PV) dan Future Value (FV) .

Rumus PV sederhana:

PV = FV / (1 + r)^n

di mana r = suku bunga, n = periode waktu .

Contoh: Kamu bakal dapet Rp1.262.000 dalam 4 tahun, dengan bunga 6% per tahun. Nilai sekarang (PV) = 1.262.000 / (1,06)^4 = Rp1.000.000 .

Ini penting buat ngevaluasi investasi jangka panjang, atau nentuin apakah lebih baik ambil uang sekarang atau nanti.

6. Payback Period

Berapa lama waktu yang dibutuhkan buat balik modal dari investasi yang udah dikeluarin .

Rumus:

Payback Period = Investasi Awal / Arus Kas Tahunan Rata-rata

Misalnya investasi Rp500 juta, dan arus kas tahunan rata-rata Rp100 juta. Payback period-nya 5 tahun.

Ini berguna buat ngebandingin proyek investasi: yang lebih cepat balik modal biasanya lebih aman .

7. Rasio Keuangan Sederhana

Di 2026, nggak cukup cuma lihat harga saham naik-turun. Kamu perlu ngerti kesehatan fundamental perusahaan. Beberapa rasio dasar yang masih relevan:

  • Debt-to-Equity Ratio: Total Utang / Ekuitas. Semakin rendah, semakin sehat.
  • Price-to-Earnings (P/E) Ratio: Harga Saham / Laba per Lembar. Bantu kamu tau apakah saham kemahalan atau murah.
  • Current Ratio: Aset Lancar / Utang Lancar. Ukur kemampuan perusahaan bayar utang jangka pendek.

Ini semua bisa kamu dapet dari laporan keuangan—yang dasarnya adalah persamaan dasar akuntansi tadi .


3 Studi Kasus: Finfluencer Trap vs. Rumus

Kasus 1: BVN dan Denda Rp5,35 Miliar

Februari 2026, seorang influencer keuangan terkenal di Indonesia, BVN, kena sanksi dari OJK karena manipulasi saham . Dia mempromosikan saham tertentu tanpa ngasih tahu bahwa dia punya kepentingan ekonomi di balik itu. Pengikutnya yang nggak paham fundamental—yang cuma ikut-ikutan hype—akhirnya jadi korban.

Pelajaran: Kalau BVN pake rumus ROI dan capital gain buat ngevaluasi investasi, dia bakal sadar bahwa yang dia promosiin nggak sehat. Tapi dia milih jual mimpi, bukan fakta.

Kasus 2: Video “Crypto to Millions in 365 Days”

Dalam studi DayTrading.com, sebuah video yang janjiin “investasi $50 bisa jadi $187.000” dapet nilai F . Nggak ada analisis fundamental, nggak ada perhitungan risiko, cuma janji manis.

Pelajaran: Dengan rumus PV/FV, kamu bisa hitung sendiri: buat dapet $187.000 dari $50 dalam 1 tahun, return yang dibutuhkan adalah 374.000%. Ini udah jelas nggak realistis—tapi banyak yang percaya.

Kasus 3: Investor yang Pake DCA dan Diversifikasi

Di sisi lain, ada studi dari Nasdaq yang nunjukkin strategi DCA dan diversifikasi aset—yang diajarin di TikTok sama kreator edukatif—ternyata beneran works . Mereka yang pake strategi ini, secara konsisten, lebih tahan terhadap volatilitas pasar dan punya pertumbuhan portofolio yang lebih stabil.

Pelajaran: Rumus-rumus klasik, kalau dipake dengan disiplin, bisa bantu kamu bangun kekayaan jangka panjang—meskipun kelihatan “kurang keren” dibanding video viral.


Data: Kenapa Finfluencer Berbahaya

Dari berbagai laporan dan riset di 2026, ini gambaran besarnya:

  • 75% video investasi viral di TikTok menyesatkan, dan angkanya naik dari 2025 ke 2026 .
  • 60% video gagal ngasih peringatan risiko di 2026—naik dari 30% di 2025 .
  • 80% video dapet nilai C ke bawah di 2026—artinya kualitasnya rendah .
  • TikTok jadi sumber belajar investasi utama Gen Z, mengalahkan sumber tradisional .
  • Regulator global mulai turun tangan: ASIC di Australia, FCA di UK, dan OJK di Indonesia .

Kenapa finfluencer berbahaya? Karena algoritma TikTok reward confidence, not accuracy. Video yang paling percaya diri (dan paling bombastis) biasanya paling viral, meskipun isinya salah .


Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

  1. Percaya Sama “Garansi Untung”
    Nggak ada investasi yang bebas risiko. Kalau ada yang bilang “jaminan untung” atau “no risk”, itu tanda bahaya .
  2. Nggak Ngecek Kredensial Finfluencer
    OJK sekarang mewajibkan finfluencer punya lisensi kalau mau ngasih saran keuangan . Tapi banyak yang belum patuh—kamu harus ngecek sendiri.
  3. Nggak Ngecek Biaya Transaksi
    Banyak pemula cuma lihat selisih harga jual-beli, lupa sama fee broker dan pajak. Ini bisa mengurangi keuntungan hingga 5-10% .
  4. FOMO (Fear of Missing Out)
    Salah satu trik finfluencer: bikin kamu takut ketinggalan momen. “Beli sekarang atau nyesel!” Ini bikin kamu ambil keputusan impulsif tanpa analisis .
  5. Nggak Diversifikasi
    Narasi viral sering fokus pada satu aset (biasanya kripto atau saham tertentu). Padahal, diversifikasi aset adalah salah satu strategi paling tua dan paling terbukti .

Tips Praktis: Investasi di Era Finfluencer

  1. Cek Sumbernya
    Apakah finfluencer itu punya latar belakang di keuangan? Apakah mereka punya lisensi? OJK sekarang mewajibkan pengungkapan kepentingan—tanyakan apakah mereka dibayar buat promosi .
  2. Gunakan Rumus Sebelum Eksekusi
    Sebelum beli saham apapun, hitung dulu ROI potensial, bandingkan P/E ratio-nya, dan cek laporan keuangannya. Ini butuh effort, tapi worth it .
  3. Terapkan DCA
    Alih-alih all-in di satu harga, investasi secara rutin. Ini mengurangi risiko dan menghilangkan tekanan “timing the market” .
  4. Cek Biaya Transaksi
    Setiap sekuritas punya fee berbeda. Cari yang kompetitif. Dan selalu hitung keuntungan bersih, bukan kotor .
  5. Jangan Investasi Pake “Uang Panas”
    Ini aturan emas: cuma investasiin uang yang kamu siap kehilangan. Jangan pake dana darurat atau uang kebutuhan pokok .

Kesimpulan: Finfluencer Jual Mimpi, Rumus Ini Jual Fakta

Di 2026, tren investasi viral—entah itu saham meme, kripto, atau NFT—datang dan pergi. Tapi financial formulas yang udah teruji puluhan tahun tetap bertahan. ROI, DCA, capital gain, PV/FV, dan persamaan dasar akuntansi bukan cuma rumus—ini adalah penerjemah antara mimpi dan realita.

Finfluencer jual mimpi: “Kaya dalam 30 hari!” Tapi di balik mimpi itu, sering ada kepentingan ekonomi yang nggak diungkapkan. Sementara rumus jual fakta: “Ini adalah return realistiknya. Ini risikonya. Ini timeframe-nya.” Nggak sexy, tapi nyata.

Kabar baiknya, OJK mulai serius. Dengan POJK No. 6/2026, aturan main finfluencer makin ketat . Tapi perlindungan terbaik tetaplah literasi keuangan—dan itu dimulai dari memahami rumus-rumus dasar yang dianggap “jadul” tapi sebenarnya adalah fondasi.

Jadi, next time kamu lihat video viral tentang “cara cepat kaya”, tanya diri sendiri: “Apa yang dikatakan rumus?” Karena rumus nggak pernah bohong.